Masyarakat dan Budayanya

25 September 2013, Rabu siang, di mana kelas Humanistic Studies angkatan 2012 dan 2013 disatukan dalam sebuah forum diskusi bersama Bapak Hikmat Budiman selaku dosen tamu. Dalam kesempatan tersebut Pak Budiiman menjelaskan tentang multikulturalisme dalam masyarakat dan paham pluralisme beserta permasalahan yang umum terjadi di dalamnya. Dalam forum ini para mahasiswa melontarkan pertanyaan-pertanyaan yang dianggap sebagai permasalahan pemahaman budaya terutama di Indonesia.
Budaya yang merupakan hasil cipta manusia atau sekelompok masyarakat yang memiliki nilai luhur atau moral, yang selalu berkembang dari waktu ke waktu. Hal inilah yang menyebabkan terjadinya perbedaan budaya bahkan dalam satu komunitas atau kelompok. Sementara itu, perkembangan budaya yang terjadi setiap saat ini melahirkan jarak di antara generasi terdahulu dengan generasi baru. Lalu apa gunanya mempelajari budaya yang selalu berkembang ini? Bukan kah budaya yang tak pasti itu tak dapat dipelajari hanya dengan teori saja?
Dijelaskan oleh Pak Budiman bahwa budaya berkembang seperti halnya manusia dan kehidupannya. Manusia itu rumit, kompleks, namun dinamis. Berkembang dari waktu ke waktu menciptakan hal-hal yang baru, termasuk budaya. Mempelajari budaya yang bahkan para ahli sendiri menghasilkan ratusan definisi dari ‘budaya’ merupakan hal yang diperlukan manusia sebagai pembanding antar budaya juga sebagai tolok ukur perkembangan sebuah masyarakat. Dengan adanya penciptaan-penciptaan budaya kita mengenal adanya pluralisme.
Pluralisme atau yang disebut sebagai paham ‘banyak’ merupakan salah satu paham yang berhubungan dengan budaya. Keanekaragaman budaya di dunia mengkubukan budaya tersebut dalam kubu negara Amerika, Indonesia, India, Inggris, dan lain-lain. Ambil saja contoh Indonesia yang mempunyai ratusan dan mungkin ribuan budaya. Keanekaragaman itulah yang disebut pluralism, di mana suatu masyarakat dapat memahami dan menerima adanya keberagaman budaya. Akan tetapi pengertian pluralisme dengan pengertian masyarakat plural sendiri sedikit ironis (menurut penulis) karena dalam kumpulan kelompok di masyarakat memiliki satu kelompok dominan.
Pluralisme sendiri ada di Indonesia dan Indonesia pernah menjadi sebuah masyarakat plural pada masa penjajahan. Namun sekarang bangsa Indonesia menganut paham multikultural di mana keberagaman budaya dapat diterima tanpa adanya pihak yang menjadi dominan. Sayangnya, hal ini memunculkan permasalahan baru seperti keaslian budaya dan identitas politik, dikarenakan penyalahgunaan serta kurangnya pemahaman tentang multikulturalisme. Oleh karena itu, badan pemerintahan negeri ini maupun negara lain (seharusnya) dapat menjadi wadah bagi masyarakat yang beranekaragam untuk dapat menjadi satu kesatuan yang kokoh. Ibarat makanan, pemerintahan suatu negara haruslah seperti melting pot yang dapat meleburkan keanekaragaman budaya dan masyarakat menjadi satu, bukannya menjadikan masayakat tersebut layaknya salad dalam satu wadah namun tercerai berai.

Destia El Aisyah P.

Prasangka, Stereotip, Diskriminasi

Author says
Prasangka merupakan persepsi individu atau kelompok terhadap individu atau kelompok lain sehingga membentuk sebuah identitas menurut si penilai. Seringnya prasangka yang tidak berdasarkan pada pengamatan dan pengenalan serta pemahaman yang jelas dapat berujung pada prasangka yang bias, bernilai negatif terhadap individu atau kelompok. Prasangka ini dapat menjadi sebuah stereotip dikarenakan prasangka atau pandangan negatif tersebut kerap digeneralisasikan kepada suatu kelompok. Adanya prasangka maupun stereotip ini seringkali dipicu oleh hal yang berbau agama, ras, jenis kelamin, serta social politik. Hal ini menyebabkan adanya sikap atau tindakan yang tidak menyenangkan terhadap individu maupun kelompok yang mendapat prasangka maupun stereotip tersebut. Namun hal ini dapat diatasi dengan adanya komunikasi antar individu maupun kelompok yang lebih ditingkatkan. Dengan demikian pemberian prasangka atau stereotip dapat diminimalisir.

I say
Hidup bermasyarakat berarti hidup di tengah perbedaan, baik itu dari etnis, agama, jenis kelamin, pekerjaan, dan lain-lain. Hal ini lah yang sering memicu adanya prasangka maupun stereotip terhadap individu atau suatu kelompok. Misalnya saja perbedaan antara orang Jawa Timur dan Jawa Tengah. Meskipun sama-sama Jawa (bahasa yang digunakan), namun orang-orang dari daerah Jawa Timur dianggap sebagai orang Jawa kasar dibanding orang Jawa Tengah karena menggunakan bahasa Jawa yang kasar, baik dari logat maupun kata yang digunakan. Ada pula stereotip bahwa orang Batak berwatak kasar karena logat bicaranya yang khas itu.
Terkadang stereotip tersebut diacuhkan karena sebagian orang yang memang mengerti akan adanya “multi-identity” atau memang karena sikap individualisme yang tinggi. Namun tak jarang pula stereotip tersebut menyebabkan perdebatan serta pertikaian antar individu atau kelompok. Contohnya saja pada kasus perang antar agama yang terjadi beberapa tahun silam di Ambon, Maluku. Perbedaan kepercayaan dan pendapat memicu adanya perang antar agama tersebut. Umat muslim pun pernah menjadi ‘korban’ kekejaman stereotip semenjak kasus bom di Amerika Serikat (9/11) di mana umat muslim dianggap sebagai teroris akibat ulah beberapa orang yang mengatasnamakan ‘jihad’.
Kurangnya pemahaman masyarakat akan sebuah golongan atau kelompok atau individu menyebabkan prasangka yang salah hingga menimbulkan stereotip yang berujung pada sikap diskriminatif. Tak perlu muluk-muluk, coba lihat di sekitar kita. Orang yang merasa ‘berada’ dan lebih ‘mampu’ memandang rendah orang yang ‘kurang mampu’. Ada pula saat di mana banyak orang menghujat seorang mahasiswi yang pulang malam dari rumah teman laki-lakinya sebagai perempuan hina atau jalang atau tidak tahu adat. Apakah orang-orang tersebut mengetahui status orang itu adalah mahasiswi yang tengah mengerjakan tugas bersama temannya dan terpaksa pulang larut?
Sebagai makhluk sosial, kita perlu menanamkan sikap toleransi dan tenggang rasa. Kita juga perlu menahan diri untuk tidak langsung menilai seseorang atau sebuah kelompok hanya dengan satu alasan atau satu sisi saja. Jika kita tak ingin dinilai buruk oleh orang, akan lebih baik jika kita memulai untuk tidak berprasangka pada orang lain bukan?

Destia El Aisyah P.

Identitas Nasional dan Budaya Indonesia

Munurut Koenta wibisono (2005) identitas nasional  adalah  manifestasi nilai-nilai budaya yang tumbuh dan berkembang dalam  aspek kehidupan suatu bangsa (nasion) dengan ciri-ciri khas, dan dengan yang khas tadi suatu bangsa berbeda dengan bangsa lain dalam kehidupannya. Smith (1991) menyebutkan bahwa identitas nasional ‘involves some sense of political community, history, territory, patria, citizenship, common values and traditions’. Identitas nasional sendiri terdiri dari beberapa unsur, yakni suku bangsa, agama, kebudayaan, serta bahasa. Melihat pengertian tersebut di atas, dapat dilihat identitas nasional suatu bangsa atau negara merupakan ciri khas suatu bangsa atau negara tersebut berdasarkan bahasa, budaya, tradisi, nilai adat dan politik yang dianut, sejarah, dan wilayah. Contohnya saja negara Indonesia. Di tengah keberagaman bahasa di Indonesia, ditentukan Bahasa Indonesia sebagai bahasa pemersatu sekaligus bahasa nasional. Dari segi wilayah Indonesia, baik dari batas barat ke timur serta batas utara ke selatan, merupakan wilayah yang diakui secara internasional sebagai wilayah Indonesia.

 

        Budaya serta suku adat yang  beragam, yang tak dimiliki oleh negara yang lain, merupakan salah satu identitas nasional Indonesia di samping adanya Bahasa Indonesia sebagai bahasa nasional serta ideologi Pancasila. Kepercayaan serta nilai luhur yang telah dimiliki oleh masyarakat Indonesia berbeda tiap daerah maupun suku. Meskipun jumlahnya beragam, dikarenakan adanya perbedaan suku dan adat masyarakat maupun daerah, budaya-budaya tersebut dikatakan sebagai salah satu identitas nasional. Hal ini disebabkan karena budaya-budaya tersebut lahir dan tumbuh di Indonesia, sehingga meski beragam jumlahnya serta telah dikenal secara internasional, budaya-budaya tersebut dinilai sebagai budaya Indonesia.

 

Destia El Aisyah P.

Ketika Nama Berbicara

Author Says

Identitas merupakan kebutuhan dasar dan utama bagi individu maupun kelompok. Identitas seseorang menunjukkan dari mana ia berasal, termasuk dalam suku apa, dan lain-lain Salah satu penentu identitas adalah nama. Nama merupakan hal pertama yang akan diberikan ketika bayi lahir, atau terbentuk sebuah kelompok atau perkumpulan bahkan pada hewan atau benda. Namun individu atau kelompok tidak memberi nama secara sembarangan. Ada unsur budaya, jenis kelamin, agama, suku, dan faktor lain yang mempengaruhi pemberian nama. Dalam hal ini, nama individu atau kelompok menjadi sebuah penanda identitas, yakni dari mana orang itu berasal, berbudaya seperti apa, serta beragama apa. Menurut Deluzain (1996), nama seseorang adalah hal yang selalu dianggap penting baik oleh individu ataupun kelompok. Penting karena nama tak hanya sebagai identitas atau pengenal individu maupun kelompok, namun juga berisikan harapan serta doa dari si pemberi nama (biasanya orang tua atau sekelompok orang) kepada yang diberi nama (anak atau kelompok). Nama juga penting bagi seseorang ang mendiami sebuah negara untuk didaftarkan (administrasi) di negara tersebut untuk kemudian memenuhi hak dan kewajibannya sebagai warga negara itu.

 

I say

Sebagai manusia yang hidup bersama manusia lainnya, sudah selayaknya kita memiliki penanda yang menunjukkan bahwa kita berbeda dengan manusia yang lain. Salah satu penanda adalah nama. Nama merupakan hal pertama yang disematkan pada individu atau kelompok ketika terlahir. Orang tua bayi ataupun pencetus kelompok memberikan sebuah nama beserta dengan doa dan harapannya. Biasanya nama terbentuk dari sejarah atau silsilah keluarga (nama marga; Sitohang, Han, Chan, Mangunkusumo, Soedirodibjo, Prasetyo), tempat lahir, agama, budaya atau adat masyarakat setempat, maupun etnis. Itulah sebabnya manusia memiliki lebih dari satu identitas. Dengan pertimbangan-pertimbangan itu pula indivitu satu dengan yang lainnnya memiliki identitas yang berbeda, menjadikan setiap manusia unik dan istimewa.

Perbedaan identitas melalui nama sering disalah artikan sebagian orang. Menurut pengalaman saya, mereka yang memiliki nama yang sama ataupun persis sama akan segera mengatakan bahwa namanya ‘pasaran’. Beberapa orang bisa menjadi acuh akan persamaan tersebut karena hal tersebut tak disengaja, senang karena menemukan keluarganya (hal ini biasa terjadi pada orang Batak yang memiliki nama belakang/keluarga yang sama), atau yang paling ekstrim mengganti nama mereka. Mungkin itu sebabnya orang tua bergitu berhati-hati ketika memilihkan nama, selain untuk menyematkan doa dan harapan yang baik, tapi juga mencegah adanya kesamaan nama anak mereka dengan orang lain, seperti yang terjadi pada adik saya. Dia memiliki kesamaan dengan nama anak tetangga hingga orang tua saya dan orang tua anak tersebut berdebat memperebutkan nama itu. Akhirnya orang tua anak tersebut mengganti nama anaknya karena adik saya lahir lebih dulu. Namun tak selamanya kesamaan nama selalu menjadi masalah, terutama jika warga Cina, Jepang, atau Hongkong yang memlikinya. Contohnya saja kata ‘Han’ yang merupakan nama marga Tionghoa dipakai oleh kebanyakan orang. Hal ini dikarenakan alasan yang berbeda-beda; tradisi, sejarah negara, dan nama keluarga turun temurun. Bahkan ada beberapa orang yang sengaja memberi nama tokoh penting pada anaknya agar memiliki peruntungan yang sama.

Hal unik lain yang disebabkan oleh penanda identitas ini terjadi pula di kalangan selebritis. Para pesohor dunia hiburan sering kali mengubah nama mereka untuk peruntungan atau hanya agar tidak terlihat kampungan (mereka malu mungkin menyandang nama aslinya). Namun hal ini tak berlaku pada model cantik internasional asli Indonesia, Nadia Hutagalung. Meski mendapat tawaran untuk mengubah namanya oleh banyak kalangan, Nadia tak ingin mengganti namanya, yang merupakan penanda bahwa dirinya adalah orang Indonesia.

Nama tiap orang memiliki makna, harapan, serta asal-usul yang berbeda. Meskipun memiliki nama yang sama bahkan persis sama ataupun terlihat norak, kampungan, atau elegan, hal itu tidak menghilangkan esensi doa dan harapan dari arti nama itu ketika orangtua memberikan nama pada anaknya. Nama yang merupakan penanda diri kita, meskipun mirip atau sama dengan nama orang lain, merupakan identitas kita yang berbeda dengan individu lain.

Destia El Aisyah P.

Stereotip, Prasangka, dan Diskriminasi adalah Manifestasi dari Penghapusan Multiple Identity

Author Says

Stereotip, prasangka, dan diskriminasi bak satu mata rantai yang saling berkaitan untuk menghapus multi identitas yang dimiliki seseorang atau suatu kelompok tertentu. Stereotip yang merupakan tindakan penarikan persepsi berdasarkan intuisi dan pelabelan seseorang atau kelompok dari satu identitas tanpa proses deduksi acapkali menjadi pemicu terjadinya prasangka di tengah masyarakat. Sayangnya, prasangka yang dihasilkan dari bias persepsi tanpa meninjau lebih dalam makna multi identitas, memicu seseorang atau kelompok untuk melakukan tindakan diskriminasi. Pola inilah yang pada akhirnya sering menimbulkan konflik di masyarakat. Tindakan mengenali seseorang yang tidak didasarkan pada kesatuan identitas yang utuh, tentunya akan menutup irisan identitas kedua belah pihak, sehingga memunculkan berbagai macam jenis prasangka yang menimbulkan konflik, contohnya konflik antarsuku. Kenyataanya, menghilangkan prasangka adalah suatu hal yang sulit, karena pada dasarnya prasangka muncul dengan pengaruh banyak faktor. Namun, konflik yang ditimbulkan oleh prasangka, termasuk tindakan diskriminasi, dapat diantisipasi dengan tindakan preventif seperti dialog antarsuku dan melakukan kegiatan bersama.

I say

Kita sudah mengenal makna multiple identity dan multicultural self. Multiple identity menjelaskan bahwa seseorang terlahir dengan banyak identitas dan tumbuh dengan afiliasi ragam budaya, sehingga ia terbentuk tidak hanya dari satu kebudayaan tetapi juga oleh kebudayaan lain yang ada di sekitarnya. Seseorang tidak hidup dalam masyarakat homogen, sehingga lingkungan memunculkan beragam jenis identitas. Bagi saya, seorang manusia ibarat sebuah himpunan identitas, terdiri dari elemen budaya, suku, agama, bahasa, ras, jenis kelamin, dan sebagainya. Jika dianalogikan dalam bahasa Matematika, dunia merupakan himpunan universal identitas, sementara itu manusia adalah himpunan identitas dalam skala yang kecil. Hubungan antara satu individu dengan individu yang lain digambarkan dalam berbagai jenis himpunan, ada yang membentuk himpunan bagian, himpunan berkomplemen, himpunan beririsan, himpunan saling lepas, himpunan persatuan, dan himpunan selisih.

Tidak masalah jika setiap individu menyadari bahwa meskipun salah satu identitas berbeda, tetapi identitas yang lainnya sama, sehingga membentuk himpunan beririsan. Namun, bagaimana jika yang terjadi adalah pola himpunan selisih? Inilah yang menjadi dasar timbulnya prasangka, stereotip, dan diskriminasi. Contohnya di Kuningan, Jawa Barat, sering terjadi konflik agama antara Islam Ahmadiyah dan ormas Islam lainnya. Sebenarnya, agama merupakan elemen dari himpunan identitas seseorang. Islam Ahmadiyah dan Islam Muhammadiyah memang berbeda jika dilihat dari elemen agama, tetapi bagaimana dengan identitas Suku Sunda, identitas bahasa Sunda, identitas Warga Negara Indonesia, haruskah identitas-identitas tersebut dihapus karena satu identitas yang berbeda?

Stereotip dan prasangka yang beredar di masyarakat telah memanipulasi pola himpunan beririsan menjadi himpunan selisih. Ia menutup irisan multi identitas, sehingga yang tampak adalah satu identitas yang berbeda. Saya sebagai orang Sunda, sebagai orang Islam, sebagai teman pemeluk Islam Ahmadiyah, sebagai pengguna bahasa Sunda terkadang miris melihat keadaan ini. Pemeluk Islam Ahmadiyah sebagai kaum minoritas dikucilkan, dipojokkan, dan menjadi sasaran kebrutalan ormas Islam yang lain. Apakah identitas orang Sunda yang “Gemah, Repeh, Rapih” harus dihapus karena satu identitas yang berbeda?

Nursupriatna
2012110007

Nama, Identitas, Budaya, dan Tradisi

Author Says

Nama tidak hanya sebatas pada satu atau dua kata yang mewakili identitas seseorang atau benda, melainkan sebuah perwujudan unik dari suatu identitas budaya yang mengakar dalam suatu kelompok masyarakat atau suatu daerah tertentu. Deluzian (1996) menyatakan bahwa setiap individu perlu memiliki perasaan bahwa identitas dirinya berbeda dengan orang lain, bahwa ia memiliki sesuatu yang khas, unik, yang tidak dimiliki oleh orang lain. Sesuatu tersebut salah satunya terwujud dalam sebuah hal yang sederhana, nama dan makna yang terkandung di dalamnya. Sesuatu yang khas ini tentunya akan menciptakan keberagaman identitas (multiple self identity) dalam suatu kelompok masyarakat yang heterogen. Oleh karena itu, sebagai seorang makhluk sosial, manusia perlu mempelajari dan memahami perbedaan yang ada. Salah satu cara yang dapat dilakukan untuk mempelajari dan memahami perbedaan adalah dengan menggali keberagaman budaya yang membentuk diri kita sendiri (multicultural self), serta berbagai norma dan nilai yang menjadi pegangan hidup ketika berinteraksi. (Tiedt & Tiedt, 2005).

I say

Saya sangat setuju bahwa nama merupakan bagian kecil dari ragam identitas, karena nama merupakan refleksi sederhana dari sebuah kebudayaan dan tradisi yang tersimpan di baliknya. Pernyataan ini bukanlah pernyataan tanpa alasan, Deluzain (1996) menyampaikan bahwa, “The truth is that names are a part of every culture and that they are of enormous importance both to the people who receives name and to the societies that given them.” Pernyataan ini menunjukkan bahwa disadari atau tidak, proses pemberian nama merupakan sebuah tradisi dan budaya yang berlaku dalam kehidupan kita. Nama menjadi begitu sangat penting dalam kehidupan kita, karena nama yang membuat kita dapat dikenali secara mudah oleh orang lain. Meskipun di dunia ini pastinya ada beberapa orang yang memiliki nama yang sama, tetapi kita harus ingat bahwa di balik sebuah nama pasti ada banyak aspek yang mempengaruhinya, seperti aspek budaya dan tradisi, sehingga di sini akan muncul identitas lain (multiple self identity) yang membuat orang tersebut berbeda. Ada sebuah fenomena menarik yang terjadi akhir-akhir ini di desa saya mengenai tradisi pemberian nama. Dahulu, orang-orang di desa saya memberikan nama bayinya dengan nama-nama yang sederhana, seperti Runtah dan Jusra. Namun, saat ini afiliasi budaya yang datang dari berbagai arah membuat tradisi ini berubah, sehingga penggunaan nama sederhana mulai terkikis menjadi nama yang panjang dan kompleks. Oleh karena itu, saya sangat setuju tentang pengertian budaya yang tercantum pada halaman pengantar dari modul identitas yang diunggah oleh Pak Hatim yang menyatakan bahwa budaya adalah sesuatu yang dinamis. Afiliasi berbagai jenis budaya yang terjadi di desa saya telah menyebabkan pergeseran suatu tradisi. Selain itu, afiliasi budaya ini pun membentuk generasi masyarakat baru yang memiliki latar belakang dari berbagai jenis ragam budaya yang mempengaruhi terbentuknya pola berpikir, bersikap, dan berperilaku seorang individu (multicultural self). Oleh karena itu, jelaslah sudah bahwa nama merupakan manifestasi dari sebuah perkembangan kebudayaan.

Nursupriatna
201211007

Culture and Multiculturalism

Culture is dynamic; it is because a culture itself is a result of cultural shifting where cultures borrow each other. Culture is also human’s unique characteristic which other being such as animals do not have. The definition of culture may vary based on the view of the culture itself, but there are two key points to define culture. First, culture is repeated actions. This means that if something occurs only once and without repetition, it cannot be called as culture. The second key point is, culture is collective action. This means that even if something is being done repeatedly, but it is only being done by a single person, it cannot be called as culture. Then, culture can be defined as repeated action(s) that is being done by numbers of people.
Culture in one way can represent identity of someone of identity of group because it is their group’s repeated action which other group may not do it. Then, if culture can represent identity of group of people, what culture can represent the identity of Indonesian? Can for example, ‘gotong royong’ as one of Indonesian cultures represent the identity of Indonesian? The answer is yes, ‘gotong royong’ is one of Indonesian cultures. However, ‘gotong royong’ only is not enough to represent the identity of a whole Indonesia, because Indonesia has many cultures.
These many cultures of Indonesia bring Indonesia to the concept of multiculturalism which is an ideology that acknowledges differences of cultures within the same degree of individuals and those cultures itself.
Before Indonesia reaches out to multiculturalism concept, pluralism concept has been used for ages by the Colonials. In pluralism, there is concept that is called as plural society which differentiating people based on the colonials’ view. Plural society which is introduced by J. S. Furnivall is designated to fulfill the colonials’ goals. At that time, the colonials were placed in the highest strata of the system above the merchants and
native (pribumi). There was no common social will which were agreed by all society members and it was only for one side, the colonials.
Then, the concept of multiculturalism which acknowledges differences of cultures within the same degree of individuals and those cultures is designed to be the answer of common social will that will be agreed by every member of the society. Multiculturalism gives freedom to every member of the society to be different but they have the responsibility to be similar each other in order fulfill the common social will. Then a question rises, why do we need to be similar each other in order fulfill the common social will when we have the right to be different? The answer is every person has their own rights and responsibilities. By balancing the rights and responsibilities in the social life, people in a society can reach the state where the social life is harmonics. This is the very goal of multiculturalism, harmonics.
However there is a problem that raises from multiculturalism which is finding a straight line where each of the cultures are on the same degree while acknowledging the differences of cultures. Purity of a culture is one of the reasons. Purity of a culture is vague because cultures adapt each other; they take and give value to each other. These impure cultures make people hard to decide which culture that fulfills their common social will. This is related to the question of what Indonesian culture is. Indonesian cannot take a culture to represent Indonesia as a whole, but Indonesian can take one of the cultures to represent Indonesia.
The next problem is the willing to have proud feeling of being a part of multiculturalism. Indonesia as example, there are people that still questioning, ‘what is in it for me to be Indonesian?’ or ‘what quality that I gain more for being an Indonesian?’ The thing is people have to be proud on what they are being by finding why they are proud or what makes them proud.
Dominant value of a culture in the multiculturalism is another problem. Differences between cultures are an issue of multiculturalism. In multiculturalism, the dominant value of a majority culture can cause jealousy for the minority. Then, how to deal with these differences?
First, Assimilation can be solution to deal with these cultural differences. Assimilation means the minority group must blend with the majority culture and leave their culture behind, just the way melting pot does to ingredients. However, there is a
problem with assimilation. The problem is there is no way minority people can leave behind their culture which has been engraved to them for so long and switch it with the majority people’s culture.
Integration might be the best solution to deal with the cultural differences. Integration means the minority people joins the majority people in a united community and live harmonically with their common social will. However, it seems to idealistic, but if the differences can be overcome by doing integration, the concept of multiculturalism will work well in the society.
Then what if Assimilation and Integration cannot solve the cultural differences? Separatism may be an extreme way to deal with the differences. Separatism means the majority separate themselves from the majority one. This will only happen if the minority people feel they are not equally treated by the majority and/or the common social will does them no good. One cannot say that separatism movement is entirely wrong action and minority people should not separate from majority people. The reason is because human has their own freedom.
Then, Indonesia as multi-cultural country, if the multiculturalism cannot be the solution to unite the people and majority culture of Indonesia keep letting the minorities to separate from them one by one, then what is left for multi-cultural country Indonesia?